Jumat, 12 Desember 2014

Kesia-sian



Kau bilang, hari ini tepat 1 tahun. Tepat satu tahun? Aku terdiam, berfikir.
Ahad. ikut ketempatnya yok”.
Otakku masih memproses. Tepat 1 tahun? Ke tempatnya? Aku masih mencoba menebak-nebak apa maksud dari ajakanmu.
Oh… Satu tahunnya dia, ziaroh? Ya, insyaallah aku ikut.” tanpa berfikir panjang, dan tanpa mempedulikan apa yang telah aku agendakan sebelumnya di hari Ahad esok, menurutku, ini bisa menjadi prioritas atas.
Tepat satu tahun. Ya, aku ingat. Ketika mataku sedang berpusat pada satu layar yang tanpa kusadari ia telah mencoba memotong setiap detik waktuku. Tiba-tiba kau datang, ucap salam, menatapku sebentar saja, dan bruukk kau langsung memelukku. Menangis. Saat itu, jantungku berdetak, rasanya baru pertama kali melihatmu menangis hay wanita yang berquote ‘Menjadi Akhwat Qowiy’. Aku tak banyak tanya. Karena ku tau kau hanya sedang butuh ketenangan. Walaupun rasa penasaranku membuncah, apa yang bisa membuatmu seperti ini.  Kau masih terus menangis dipelukanku. Dan akupun masih mencoba menenangkanmu. Akhirnya, dengan terisak kau mulai bicara. “Dia. Dia meninggal”, kau menyebut namanya, seorang lelaki, yang sungguh tak ku temukan banyak kesalahan-kesalahannya, seseorang yang berperangai bijak, menghargai semua orang dan sangat jarang terlihat lusuh karena murung, dia bersemangat dan totalitas. Dan itu terbukti dari semua postingan kawan-kawannya di media sosial, yang mengagumi kebaikannya dan rasa tak percaya telah kehilangan sosok sebaik dia. Mendengar kau sebut namanya, Deg. Akupun masih tak percaya, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang, karena tak mungkin bisa menenangkanmu sementara aku sendiri kalut dalam kesedihan dan rasa tak percaya. Kau mencoba menceritakan kronologinya, dengan isak-isak tangismu, maafkan dear, lagi-lagi aku tak bisa berbuat apapun, hanya bisa menenangkan, tapi kurasa tindakan itu yang paling tepat ku lakukan kala itu. “Sekarang dia dimana?” aku bertanya, dan kaupun menjawab, segera aku bersiap untuk takziyah. Saat hendak bangkit dari tempat dudukku. Aku menoleh kebelakang, menatap pada layar yang masih terputar film action luar negeri itu, dadaku sesak, Oh Tuhaaann… Betapa lalainya diri ini. Aku lupa begitu mudahnya Kau hentikan kehidupan seseorang, aku lupa bahwa kematian bisa datang pada siapapun tanpa ada yang bisa merayu malaikat maut untuk menunda kematiannya. Mulai detik itu juga, aku bertekad untuk tidak lagi melakukan hal yang tak jelas, padahal aku tau film-film itu tidak meningkatkan kualitas imanku. Hanya hiburan tanpa tujuan mencari kesenangan di dunia yang memperdaya ini. Tertipu nafsu semata. Tak berfikir panjang dengan apa yang akan aku jawab ketika esok Engkau bertanya “kau gunakan untuk apa masa mudamu?” Oh Tuhannn… aku tak siap bila aku harus terdiam ketika esok Engkau bertanya, terdiam karena aku melakukan kesia-siaan di masa mudaku. Akupun mulai menuliskan kalimat ampuh ini didinding kamar.

            “Allah, apa yang sedang dan akan aku lakukan ini karena-Mu”

Mulai menghentikan segala aktivitas yang tak bernilai surga. Sampai sekarang, akupun masih belajar. Karena salah satu mimpiku, Kau jadikan hari terbaikku, hari disaat aku bertemu denganMu.


13 Desember 2014, 14:00
Kamar Cinta Multazam2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar