Selasa, 10 Maret 2015

Tentang Sikunir dan Misi Ukhuwah


Bismillah…
Ini tentang kisah perjalananku denganmu, hay orang-orang yang sedang belajar ku cintai.
Kali ini, kami ingin menaklukan bukit yang dijuluki golden sunrise setelah sebelumnya telah berhasil menaklukan perjalanan merbabu (padahal cuma setengah jalan sih alias nyampe pos camp terus turun lagi gara-gara katanya ada badai di atas :D). Konon ceritanya, dibukit inilah tempat melihat sunrise terbaik se-asia tenggara. Dan katanya, desa ini merupakan desa tertinggi dipulau jawa, perkenalkanlah ia adalah Bukit Sikunir.
Cerita dulu nih sebelum sampai di tempat keren karunia Sang Maha Keren.
Aku (anak asrama ceritanya), yang nggak segampang itu aja dapet izin untuk bisa nge-camp dimanapun. Punya alur sendiri buat bisa izin nggak bermalam di asrama yang berarti harus ninggalin kelas belajar malam dan pagi.
Setelah pengumuman hasil diskusi di kelas proyek mandiri yang memutuskan kelasku jadi nge-trip ke Sikunir, pasca kelas microteaching akhirnya di-list siapa saja yang akan ikut dalam adventure kali ini. Ada namaku? Ya, ada. Nama yang tertulis tanpa persetujuanku, ah kalian. Entah apa alasannya mereka sangat ngotot banget aku kudu ikut. Ya intinya, mereka mau kita mau semua ngumpul, detik-detik terkahir selo di kampus katanya. Aku juga mau gaes, tapi bagaimana dengan perizinanku. Tiga hari sebelumnya aku sudah meminta izin dengan pemandu, hasilnya? tertolak. Akhirnya aku putuskan untuk langsung menemui ummi dengan menjelaskan semua misi ku mengikuti kegiatan ini, diperbolehkan. Bahagianyaaahhh... Akupun melaporkan keputusan ummi ini pada kawan-kawanku. Tapi, lagi, karena aku anak ‘bandel’ yang nggak bandel-bandel banget, jadi aku putuskan untuk kembali meminta izin pada pemandu, ternyata hasilnya sama. Akupun mencoba menarik salah satu supervisor untuk bisa merayu pemanduku itu :D, alasan lain ya jelas karena supervisor pasti akan jauh lebih mempertimbangkan dengan matang keputusan yang terbaik.
--Meminta Izin
Mba  : “Wahh… berarti kalo Bintang nge-camp Bintang ninggalin kewajiban di Asma
buat menuntut ilmu dong”
Aku   : “Bintang bakalan nyalin pelajaran yang dikasih ustadz waktu Bintang nggak
            dateng deh. Bolehhh yaaa???”
Mba  : “Tetep beda Bintang sama Bintang dateng langsung di kelas.”
Aku   : “Tapi Bintang pernah nggak masuk kelas padahal disini (diasrama). *nyengir”
Mba  : “Haaa” shock banget wajah mba-nya, “kok bisa Bintang? Kenapa?”
Aku   : “Emang mba nggak pernah (nyari temen :D)? Kenapa ya… Bintang juga nggak
            tahu kenapa mba. Rasanya nggak pengin aja dateng ke kelas”
Mba  : “Nggak pernah Bintang, mba kalo nggak bener-bener sakit yang udah nggak
             kuat banget, mba pasti ke kelas. Gini deh, saat kita menuntut ilmu, akan
             sangat mudah ilmu itu masuk dek, nggak terlalu sulit kita memahami apa
    yang disampaikan guru. Tapi, gimana dengan keberkahannya? ini yang
   susah didapat Bintang”
Aku   : (Speechless)
---masih panjang diskusi dengan mba, sudahi dulu---
Saat aku berbincang meminta izin padanya, ada momen ia meneteskan air mata, Ya, banyak yang kudapat dari mba, sampai-sampai aku hanya bisa mengiyakan, ah mba, entah jurus apa yang engkau pakai, aku tersihir dengan apa yang kau ucapkan.
Tapi hari setelahnya, azzamku untuk ikutpun menguat. Kembali aku meminta izin pemandu, ku memintanya untuk duduk agar suasananya lebih tenang, aku memulai perizinan dengan hati-hati, kata mba yang kemarin, aku bisa saja diizinkan asalkan ada alasan yang benar-benar membuat pemandu yakin Bintang bisa diberi izin. Maksudnya, kegiatan itu sangat penting.
“Mba, Bintang kudu ikut banget ini agenda, udah tak fix kan Bintang mau ikut. Mba, semester kemarin adalah masa pendekatan Bintang sama temen-temen Bintang, Ya katanya kita ADK masa nggak memberikan pengaruh apa-apa di lingkungan terdekat. Dan semester ini, Bintang udah mulai deket sama temen-temen, mereka pun semakin terbuka dengan Bintang, nggak sungkan. Ya, awalnya Bintang ngerti mereka dulu, ngikutin alurnya mereka, sampai akhirnya mereka pun mengerti Bintang, mislanya, sekarang jadi nyaman-nyaman aja kalo mau pegang Al-Qur’an dikelas. Ya, kalau sudah saling memahami, kan mau ngajak-ngajak juga enak. Nah misi di atas pendakian besok, Bintang pengin minimal banget ngingetin mereka untuk sholat (aku jelaskan keadaan temen-temen kelas).”
---dan masih panjang lagi---
Ya, semester sebelum-sebelumnya memang aku merasa sangat egois, mementingkan diri sendiri, menggemborkan dakwah tapi tak belajar bagaimana cara berdakwah, mereka berbelok kekanan dan kekiri tapi aku lurus-lurus aja (terlalu merasa nyaman dengan duniaku, dan lupa kalau ada orang yang butuh digandeng juga supaya sama-sama merasakan manisnya dunia yang aku jalani). Aku memang belum keren dalam masalah menjaga ibadahku, ya keistiqomahan kekhusyukan kan akan terus berproses. Dan teorinya sudah aku pahami, sekarang tinggal bagaimana aku mengajak teman-teman untuk menambah kepahaman tentang kewajiban yang kudu dijalanin semasa hidup. Kita hanya butuh komunikasikan semuanya aja kan guys.
-o-o--
Pagi hari sebelum jam di hari-H (siangnya), aku mendapat kabar menggembirakan, aku diizinkan. Alhamdulillah. Tapi bersyarat. ^^
Salah satu syaratnya adalah harus bisa kondisikan temen-temen buat sholat, dan akupun memperlihatkan sms itu ke salah satu kawan, oke dia menyanggupi.
-o-o--
Transit di Temanggung (salah satu rumah kawan).
Misi pun ku lakukan.
Hasilnya? Ya, bagaimanapun usahamu, Allah yang akan menentukannya.
Jika hamba-Nya tak ingin mengambil hidayah yang diberikan. Mau bagaimana lagi?
Alhamdulillah, beberapa temanpun membantu tertuntasnya misi ini, dengan semangatnya terus mengingatkan “Ayo sholat… Ayo Sholat…”, “(Sholat maghrib), heyy buruan udah mau isya nih”, dan jawaban mereka pun aneh-aneh. :D
Kami merasakan senyum bahagia (*karena mereka bersegera menyambut seruan), tapi kami rasakan juga ada detakkan yang tak tenang (*mempertanyakan kenapa masih ada saja yang menolak panggilan).
Dan semua itu, tetap Allah lah yang membuat mereka tersadarkan, dan terbangkitkan.
-o-o--
Kita hanya butuh saling mengingatkan saja, saling memberi kepahaman jika belum paham, saling menasehati saat mulai menjauh dari Sang Pemilik Hidup. Saling membuka hati untuk tetap mencintai, dengan apa? Mendoakan satu sama lain, dimanapun wadahnya, seperti apapun aktivitasnya, tapi kita tetap sama-sama muslim kan? Kata “UKHUWAH” mungkin akan sangat asing bagi mereka, tapi misi ku selanjutnya adalah meyakinkan pada mereka “Ini lhoo UKHUWAH, 1 kata penuh cinta, yang diteruskan dengan tindakan nyata untuk saling mendoakan, saling menyenggol saat ada yang mulai kehilangan arah, saling menanting jika ada yang merasa sulit, saling tebar senyum pemberi semangat, saling menanya kabar saat saudara yang lain tak terlihat, dan yang pasti, saudara itu akan merasa resah jika saudaranya yang lain sedang berjalan dalam gelap seorang diri.
-o-o--
Ahh… akupun belum sebaik itu, aku juga masih sering terlungkup dalam gelap, akupun masih sering terlihat lusuh tak bersemangat, bahkan kau yang sering melihat tak ada senyum yang kuukir diwajahku, tak ada sapaan hangat, dan tingkah lain yang mungkin engkau lebih paham, ingatkan saja aku, tak usah sungkan, dear.
Salam Rindu, dariku, yang sedang belajar Mencintaimu Karena Allah.


10 Maret 2015, 01:38
Kelas Rumah Cahaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar