Sabtu, 15 November 2014

Aku Mau Minta Maaf sama Ka Sinta



Cerita ini, tepat 1 minggu yang lalu (3 November 2014), jadwalku mengajar di TPA, Tempat Penitipan Anak? wiihh bukan bukan, itu Taman Pendidikan Al-Quran. Itu lho tempat anak-anak kecil ngaji. Wah rajin banget anak kecil ngaji, zaman sekarang kan anak-anak pegangannya udah gadget atau pulang sekolah main Play Station. Pasti anak-anak TPA itu nurut banget deh sama orangtuanya, beruntung sekali mereka yang masih mau nurut orangtuanya bakalan jadi keren deh gedenya insyaallah, dan bersyukur sekali orangtua bisa bujuk anaknya buat rajin berangkat TPA ditengah-tengah anak-anak lain yang kebanyakan telah dijajah oleh arus globalisasi khususnya kemajuan teknologi, yah mungkin beberapa dari kalian pasti ada yang berfikir seperti itu tentang anak-anak TPA.
Yuhuuu… Kita bahas TPA tempatku ngajar, yok.
Benarkah anak-anak itu nurut?
Minggu sebelumnya, aku pun mengajar TPA, berangkat dengan sedikit berat hati karena memang bukan jadwalku, hehe. Dan akupun pulang ke asrama karena ada hal yang harus aku garap. Tapi lagi-lagi, masihkah kita bisa menolak pahala kebaikan yang akan datang? Sayang lho. Oke aku putuskan untuk pergi mengajar karena memang hal yang akan ku kerjakan masih bisa ditempatkan dilain waktu, pikirku.
Di tempat TPA.
Baru datang, disalamin sama anak-anaknya, cium tangan. Beberapa saat kemudian… ‘Pertempuran’ awal dimulai. Riuh ricuh anak-anakpun hadir. Mulai dari yang susah disuruh masuk gara-gara keluar masjid saat TPA akan dimulai. Menyuruh turun seorang anak yang manjat (*menaiki) hijab penutup shof laki-laki dan perempuan, bahannya terbuat dari besi tinggi satu meter lebih dikit, ada juga yang duduk dimeja. OMG (>.<**)
TPA pun dibuka. Salam. Sikap berdoa. ‘tangan di tengadahkan, kepala ditundukkan, berdoa mulai’. Berdoa pun, ustadzah (sapaan hangat santri TPA pada guru ngajinya) harus tetep memperhatikan anak-anak, seringnya ada yang ngobrol waktu berdoa, ada juga yang mainan sendiri. Kalo udah gitu, ngapain? rangkul pundak si anak atau cukup dilihat saja, senyumin tuh anak, baru dituntun berdoa deh. Anak sebenernya nurut kok sama ustadzahnya.
            Selesai berdoa. Materi yang telah ku siapkan kali ini yaitu tentang CITA-CITA. Sebelumnya, anak-anak diberikan pertanyaan untuk menentukan urutan ke-berapa ia mengaji. Nah, setelah dapet urutannya, aku beri mereka kertas kecil. Aku biarkan mereka memilih warna yang mereka sukai. “bagi yang lagi nggak dapet giliran ngaji, tuliskan cita-cita kalian dikertas yang tadi sudah di ambil ya, terus gambarkan cita-cita kalian dibaliknya”. Mereka pun nurut, walau awalnya ada keluhan “aku nggak bisa gambar ustadzah” dan lain sebagainya, tapi akhirnya mereka mengerjakannya dengan senang sambil mikir-mikir apa yang akan digambar. Lucu. ^^ Nah, kenapa bahas tentang cita-cita? Anak-anak memang harus dibangun mimpi-mimpinya sejak dini, punya orientasi kedepan, sering-sering diingatkan tentang mimpi-mimpinya, bahkan bisa jadi bahan motivasi ketika sang anak mulai malas belajar. misalnya, “katanya mau jadi dokter, dokter itu harus pinter lhoo. Kalo nggak pinter nanti salah kasih resep ke pasien, eh pasiennya malah tambah parah kan bahaya, yang tadinya pengen bermanfaat buat oranglain tapi malah bikin tambah sakit. yok sekarang belajar”. Yaps, mengambil hati anak dengan berbagai cara, setidaknya membuat anak berhenti teriak-teriak gaduh di dalam masjid, itu target awal.
            Balik lagi ke hari senin tanggal 3 November, minggu lalu. Dengan segala ngotot-ngotot mereka, akhirnya aku mengalah. Mereka minta jalan-jalan, padahal baru jumat kemarin mereka jalan-jalan. Mereka menyebutkan satu persatu jadwal ekstrakulikulernya, yang akhirnya hanya hari senin yang kosong. Baiklah. Kami jalan-jalan.
Sebelum perjalanan, aku memperhatikan seorang anak, tak nampak seperti biasanya, hari itu, dia menjadi seorang pendiam. Padahal biasanya, dia sering ‘memberontak’. Tapi, ku biarkan dulu dia seperti itu. Perjalanan pun dimulai, di perjalanan ku ajak anak-anak muroja’ah, tepuk ala TPA dan ku ajarkan mereka tersenyum dan menyapa pada setiap orang yang lewat. Setelah perjalanan makin jauh, ku dekati anak yang tadi itu, namanya Mirna. Aku ajak ngborol-ngobrol dan akhirnya dia memberi statement yang menjawab pertanyaanku sejak tadi. “Ustadzah, aku pengen minta maaf sama ka Sinta.”, “emang Mirna salah apa?” tanyaku “eh, nggak jadi nggak jadi ustadzah.” Setelah kutanyai beberapa kali tapi tidak mau menjawab, akhirnya ku mengalah, tidak terlalu memaksanya menjawab.
Aku melirik tempat yang kira-kira bisa buat ngumpul anak-anak TPA ini. Akhirnya aku ajak mereka ditengah tanah lapang kecil yang rumput-rumputnya sudah lumayan banyak menyebar, “nggak mau ustadzah, disitu banyak uletnya.” Ku diamkan mereka yang memprotes, tempat kami berkumpul tetap disitu.
“Ayookk… apa saja yang sudah didapatkan selama perjalanan kita tadi, kita nggak kan yaa perjalannya terlewatkan sia-sia. Pokoknya masing-masing harus kasih satu hal yang telah didapatkan dari perjalanan tadi.”
Ku buka forum TPA ini dengan pertanyaan itu.
Setelah mereka semua menjawab, baru aku masuk ke pertanyaan utamanya.
“Nah sekarang, Siapa disini yang lagi nggak suka sama orang?”
“Saya ustadzah, sayaa… sayaa.” Hampir semuanya mengacungkan tangan dan menyebutkan aku nggak suka sama ini sama itu. Dan menceritakan orang-orangnya, ada temen SD dan yang lainnya, Sinta pun menjawab “saya juga ada ustadzah.” Ini yang paling ditunggu-tunggu. “kenapa sinta?” “ya pokoknya ada sesuatu, masalah pribadi” *duh
Lalu ku ceritakan bagaimana memaafkan, pentingnya memaafkan bagi mereka dan semua tentang memaafkan yang dapat diterima oleh anak-anak.
Akhirnya, semuanya pun saling bersalaman satu dengan lainnya, kecuali dua anak perempuan itu. “lhoo sinta kenapa nggak mau salaman sama mirna (sinta adalah santri tertua diantara teman-temannya).” Dia berputar-putar menghindariku sambil ketawa-ketawa, ah ini anak. Setelah dibujuk beberapa waktu akhirnya sinta mau bersalaman dengan Mirna. Kamipun pulang. Ku lihat Mirna dan Sinta masih berjalan sendiri-sendiri, acuh tak acuh. Tapi tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Sinta mengajak ngobrol Mirna. Masyaallah, indahnya persahabatan ya dek, mba belajar memaafkan dari kalian.
Anak kecil itu, dengan mudahnya ia akan memberi maaf dan meminta maaf. Kenapa? karena mereka tak pernah memposisikan diri dalam perasangka, yang akan mematikan hatinya. Mereka membuat kehidupan dunia penuh dengan keceriaan. Mencari kawan sebanyak-banyaknya. Musuh ada? ada. Mereka kan memang senang membuli teman yang lainnya. Marahan, iya. Tapi, beberapa saat kemudian, kita bisa melihat mereka akur kembali, tak terlihat bekas-bekas kekesalan karena permasalahan sebelumnya. Mereka sudah saling memaafkan secara alamiah. Itu anak kecil, yang belum ngerti ilmu tentang memaafkan, belum ngerti bagaimana penilaian Allah, bagaimana penilaian manusia. Lalu kita? yang sebenarnya sudah sangat mengerti pentingnya meminta maaf dan memaafkan, masih saja bersimpuh dalam prasangka, menenggelamkan diri dalam kebencian dan merasa diri paling benar.
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maaf-kanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. 3:159)
yappss… selalu mengupayakan diri untuk berbuat baik. Kita yang menjadi pelopor untuk berbuat baik… ^^ Siaaappppppppppppp \^_^/

Kamar Cinta Multazam 2
15 November 2014, 22:05 (Last Edited)

2 komentar:

  1. baru nyadar pakai akun orang di mozilla a.n. Arifah Bintang Hidayah -___- ee. jadi malah kayak komentar sendiri. haha

    BalasHapus