Jumat, 18 Juli 2014

Berbicara dari Hati, untuk Sampai ke Hati



Dia. Akhwat keren.
Muslimah keren yang memikat hatiku dipertemuan pertama.. tidak.. tidak.. kami tidak bertemu.. terpisah jarak.. aku hanya mampu melihatnya saja.
“kereenn banget ini ngomongnya.. ngena.. ngejleb tapi aluss.. lancaarr tanpa jeda pokoknya enak banget di denger”,
itu ketika mba nya diminta untuk mempresentasikan Tugas Akhirnya tentang “”..
Aku terpesona. :’)

Tuing tuing… beberapa saat kemudian..
Di dalam istana kecil itu, ternyata Allah menakdirkanku untuk mengenal lebih dekat dengan mba sholehah yang keren ini. Setelah ku tau ternyata dia jurusan psikologi… aaaa tambah keren!!
Setiap ketemu, ada saja ilmu yang ia sampaikan…
Jadi inget kajian beberapa hari lalu, seorang mukmin yang baik itu? Dia yang dengan memandangnya saja sudah meningkatkan keimanan.
Nah akhirnya kami dipertemukan lebih dekat di forum lingkar. Menghafal surat Ar-rahman. Walaupun beberapa pertemuan baru bisa bersamanya :D
“Dek, tau nggak kenapa dalam surat arrahman itu dibuat seperti itu? Ada ayat yang diulang-ulang ‘fabiayyialaairobbikumatukadzdziban’?”
“emm..kenapa mba?”, kataku berharap penjelasan darinya.
“Coba Bintang cari tau, ketika bintang sudah menemukan jawabannya, insyaallah akan semakin mudah menghafal”.
Lalu, dia berlanjut ke kawan lain yang sedang kesulitan menghafal, aku masih memperhatikannya.
“Para sahabat, mereka itu menghafal bukan sekedar menghafal, tapi mereka menjaga. Dan…” *akuLupa*.

Suatu pagi (9 Juli 2014). Kami menemui nya di kamar. Ia sedang terbaring lemah, sakit. Tapi tak terlihat sakit, dengan segala kata yang ia keluarkan, masih sama, menyentuh hati.
Kita hanya ingin bertemu dengannya, sekedar kata terimakasih sebelum ia pergi meninggalkan istana kecil ini untuk beberapa waktu saja sebenarnya. Tapi kedekatan atas nama cinta untuk waktu yang tidak terlalu lama telah melabuhkan hati pada kekuatan untuk mempertahankan, 4 hari? Bukankah sangat singkat? Namun apa yang selalu ia katakan?
bicaralah dari hati, niatkan selalu untuk berbicara dari hati, supaya sampai ke hati
Pagi itu, kami ungkapkan juga kekaguman kami padanya, kemudian ia bercerita,
“mba juga sangat kagum dengan seseorang (ia sebut namanya), sampai sekarang, tapi lama-lama mba berfikir, ‘apakah kekaguman mba ini sudah mendekatkan mba dengan Allah atau bahkan telah menjauhkan mba dengan-Nya’. Pada saat-saat seperti ini sebenarnya Allah sedang menguji, sejauh mana mba kagum dengan ciptaan-Nya. Yang seharusnya tidak pernah mengalahkan kekaguman kita pada Allah”. :’)
Ini sama halnya juga ketika Allah memperlihatkan pada kita keindahan alamnya. Gunung itu keren. Langit itu keren. Laut itu sangaat keren… Apalagi yang menciptakan? Subhanallah. Mengagumi Sang Pencipta seluruh keindahan, sebelum mengagumi yang lainnya… :’)

Pada suatu kesempatan, saat kami buka bersama (10 Juli 2014) ada sesi curhat-curhat. Si lawan berhak mengajukan pertanyaan apa saja pada korban. :D
Nah, pas si korbannya mba keren itu, momen terpanjang dalam sesi curhat ini :3
Dengan banyaknya pertanyaan, sampai akupun lupa apa saja :/ ..
salah seorang akhwat ada yang bertanya, ‘mba, apa cita-cita mba?’
dia menjawab, “cita-cita itu kan sudah Allah tuliskan ya. Sudah ditakdirkan. Kalo mba ditanya soal cita-cita, mba akan lebih menjawab ke hal akan yang dilakukan, salah satunya, mba ingin setiap orang yang ada disamping mba, selalu merasa menjadi orang yang paling dekat dengan mba. Tapi jika memang harus menjawab, mba bercita-cita menjadi dosen, mba tidak terlalu menginginkan profesi itu, namun bapak menginginkan mba untuk menjadi seorang dosen, karena itu keinginan orangtua dan berbakti kepada orang tua merupakan salah satu ibadah, kenapa tidak dilakukan :’)”.
Aku jadi teringat sahabat-sahabat rasulullah saw dulu, mereka juga masing-masing merasa menjadi orang yang paling istimewa dihadapan rasulullah saw. Karena rasulullah saw selalu memberikan sikap terbaik untuk sahabat-sahabatnya.
Kembali lagi…Ya benar, setiap orang memang akan merasa sangat dekat ketika berada disampingnya, seperti posisiku saat itu, tepat disampingnya, dan aku memang selalu bersengaja untuk memposisikan diri untuk sedekat mungkin dengannya. Hanya ingin merasakan atmosfer cinta yang lebih dalam, hanya ingin merasakan kehangatan ketika berada disampingnya, kehangatan dari sentuhannya, dan dari setiap kata yang keluar dari lisannya. Selalu saja ada motivasi terbaik yang ia berikan.

Kemarin (Jumat, 18 Juli 2014), sebuah kenangan terindah. Lagi-lagi hanya sebuah rangkaian kata, tapi kali ini ditambah pelukan hangat.
“Bintang, jadi anak yang baik ya buat orangtua, jadi penyejuk mata orangtua ketika Bintang pulang, semua sikap Bintang perkataan Bintang, berusaha menjadi Qurrota A’yun. Bagaimana caranya?”. “hati-hati dengan perkataan ‘tidak’, hati-hati ketika menolak orangtua, hati-hati ketika Bintang diperintah, segera saja kerjakan. Bintang juga harus menjadi kakak yang baik buat de stoic, menjadi adik yang baik buat mas arif. Jangan lupa selalu memberikan wajah bahagia untuk orangtua, entah saat itu perasaan Bintang lagi nggak enak, atau ada masalah, tetap saja wajah itu nggak boleh di tekuk”. “………………………………..”
Aku tak mampu menguraikan semuanya. Privasi. :D
#part1
*Ukhibuki Fillah mba ^^
19 Juli 2014, 09:49 (Last Edited)
Kamar Cinta, Multazam 2

1 komentar: