Selasa, 19 November 2013

Keteguhan Hati :')



Dalam suatu majelis ilmu yang isinya akhwat semua, salah seorang akhwat sebut saja namanya aisy, dia menceritakan masalalunya, ketika beberapa waktu yang lalu belum lama, dia sempat menjalin hubungan dengan seorang lelaki, dia berkata “ketika, orang-orang yang ada disekitarnya sedang asik-asik memperbaiki diri, tetapi saya masih asik-asik pacaran”. Dan setelah proses panjang dan setelah dia menyadari kesalahannya, akhirnya dia memutuskan untuk berhijrah meluruskan diri. “saya langsung memutuskan semua pacar saya dan terus memperbaiki diri saya” ujarnya. “tetapi ketika itu yang paling tertohok yang membuat saya sakit hati adalah semua teman-teman yang dulu bersama saya, langsung menjauhi saya.”
Itulah salah satu contoh kisah yang menggambarkan keteguhan hati, ketika dia telah menentukan pilihannya apapun yang akan dikatakan oranglain tentangnya, dan bagaimanapun sikap orang terhadap dirinya, selagi seseorang tersebut yakin apa yang dipilihnya itu baik dan benar maka lakukanlah.
Karena seperti disebutkan dalam hadist riwayat Ahmad dan Ad-Darimi
Dari Wabishah bin Ma’bad berkata, “Aku datang kepada Rasulullah SAW, maka Beliau bersabda. ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Lalu Beliau bersabda, ’Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’”
        Salah satu cerita lagi pada saat itu ada suatu kunjungan dari Universitas lain ke SKI Fakultas saya. Cerita ini tentang seorang akhwat yang menceritakan dirinya, bahwa dia merupakan lulusan pondokan dan sudah 6 tahun berada di pondok, yang selalu dia pelajari adalah tentang kitab kitab dan kitab, begitu katanya. Awalnya saya kaget dengan pakaian yang dikenakan akhwat-akhwat ini. Biasanya seorang aktifis dakwah yang merupakan pengurus suatu SKI itu berpakaian ya minimal menggunakan rok, tetapi disini akhwat yang berjumlah 5 orang pertama yang datang, hanya 1 yang menggunakan pakaian syar’i. Dan ketika kami wudhu bersama untuk melakukan sholat dzuhur, salah seorang dari mereka yang merupakan lulusan pondok itu bertanya pada salah seorang dari kami, katanya “Mba, pake pakaian kayak gini sejak lama?” ya dan kami hampir bersamaan menjawab bahwa kami memakai pakaian yang syar’i ya baru diperkuliahan ini. Kemudian dia menceritakan bahwa dulu di pondoknya tidak pernah diajarkan bagaimana pakaian yang seharusnya dikenakan. Jadi saya melihat wanita ini masih menggunakan jins ketat, baju dan kerundung yang kecil dan nerawang. Dia bercerita juga bahwa orangtuanya itu orang yang ngerti agama. Yang saya simpulkan dari pembicaraannya saat itu adalah dia masih belum merasa nyaman dengan semua aturan islam. Mungkin karena tadi itu, begitu banyak teori yang dia ketahui namun tidak dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, dia berkata bahwa semua aturan itu membuat terkekang, ini tidak boleh, itu tidak boleh. ya, itu tadi karena keteguhan hati. Bersungguh-sungguhlah dalam memperdalam ilmu, ketika kita hanya melihat kulitnya saja tanpa mengetahui isinya, hasilnya pun menjadi sebuah dugaan-dugaan yang berbuah prasangka. Itulah seorang yang satu dan yang lainnya, bertanya itu menjadi sangat penting untuk menjadikan diri kita tidak tersesat dan hanya berada dalam lingkar bingung tanpa jalan keluar.
        Keteguhan hati, yakinlah jika itu pilihan terbaik. Lakukanlah.

Kamis, 31 Oktober 2013

Hakikat Sejati Kebahagiaan Hidup :')

“Berbeda hal nya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tak terkita. Bahkan ketika musuh kau mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapat nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.
“Itulah hakikat sejati kebahagiaan. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana dan apa adanya. Kau harus berkerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.”
Kisah : Danau Para Sufi, Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip hidup yang agung.
ketika ayahnya bertanya tanya tentang apa hakikat sejati kebahagiaan hidup.
Tidak ada sekelompok sufi yang bisa memberikan jawaban memuaskan.
Menyarankan ia untuk pergi ke lereng gunung, menemui salah satu sufi besar.
Kemudian ayahnya pergi ke tempat tersebut.
Sang guru menyuruhnya membuat sebuah danau.
Pada tahun pertama, masih belum beres karena ketika terkena air hujan, danaunya keruh.
Kemudian memutuskan buat saringan si setiap parit. Taun kedua datang, ketika menusuk dasar danau dengan bambu panjang, airnya keruh lagi.
Sampai akhirnya memutuskan untuk menggali sedalam-dalamnya sampai menyentuh dasar bebatuan. Menyentuh mata airnya.
3 tahun berlalu. Akhirnya hari yang dijanjikan datang juga, sebuah danau yang bagai kristal air mata, tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit yang bocor dan sejenak membuat keruh.
Itulah, hanya untuk memahami kebijaksanaan hidup.
Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita.
Rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seeketika keruh berkepanjangan.

31 Oktober 2013, 22:55
                                            Kisah dari Novel Tere-Liye, Ayahku (bukan) Pembohong